Featured

First blog post

This is the post excerpt.

Advertisements

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Apakah Anak-ku harus rangking 1?

i’m agree…

"Happy every day"

Si Ranking 23 : “Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”

Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun ternyata anak kami  menerimanya dengan senang hati.

Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya begitu bersinar-sinar.

Kemudian ketika dia membaca sebuah berita…

View original post 1,339 more words

“MENANGANI KEKHAWATIRAN”

Langkah pertama dalam menangani kekhawatiran adalah kesadaran diri, yaitu peka akan adanya serangan kekhawatiran sedini mungkin-idealnya, segera atau tepat setelah kilasan bayangan bencana memicu siklus kecemasan-kekhawatiran.

Melatih orang menggunakan pendekatan ini dengan terlebih dahulu mengajari mereka memantau tanda tanda kecemasan , terutama belajar mengidentifikasi situasi situasi yg memicu kecemasan, atau kilasan pikiran dan bayangan yang mengawali kecemasan, juga untuk mengidentifikasi perasaan yg menyertai kecemasan pada tubuh.
Tetapi metode relaksasi saja tidaklah cukup. Para penderita kekhawatiran juga harus aktif melawan pikiran pikiran yg merisaukan. Bila gagal melakukannya, spiral kecemasan akan terus menerus kembali. Jadi, langkah berikutnya adalah bersikap kritis terhadap pengandaian-pengandaian mereka: apakah kemungkinannya memang besar bahwa peristiwa yg menakutkan itu akan terjadi ? apakah mutlak hanya ada satu cara atau tak adakah alternatif lain untuk mewujudkannya? Adakah langkah langkah konstruktif yg dapat diambil? Sungguhkah bermanfaat terus menerus merenung-renungkan pikiran mencemaskan yg itu itu juga?

Gabungan penalaran dan skeptididme yang sehat ini, tampaknya, akan bertindak sebagai rem bagi aktivasi saraf yg memicu kecemasan tingkat rendah. Aktif menghadirkan pikiran pikiran semacam itu dapat menghidupkan jarigan sirkuit yang mampu menghambat sistem limbik yg mendorong timbulnya kecemasan ; pada saat yang sama, secara aktif membangkitkan perasaan santai akan melawan sinyal-sinyal kecemasan yg dikirimkan oleh otak emosional keseluruh tubuh.

Satu-satunya suasana hati yg pada umumnya benar benar diusahakan untuk dijauhi adalah kesedihan. Ada saja akal orang bila menyangkut upaya menyingkirkan kesedihan, seperti suasana hati lainnya, mempunyai manfaat manfaat. Kesedihan yg timbulkan oleh suatu kehilangaqn mempunyai akibat akibat tertentu yg berbeda beda: menutup minat kita pada hiburan dan kesenangan, mengarahkan perhatian pada apa yg telah hilang, dan menghimpun energi kita untuk memulai usaha-usha baru, sekurang-kurangnya untuk sementara waktu. Pendek kata, kesedihan memaksa orang untuk beristirahat dari kesibukan duniawi, dan membuat perhatian kita tertuju pada kehilangan tersebut, merenung-renungkan hikmahnya, dan, pada akhirnya, membuat penyesuaian-penyesuaian psikologis serta menyusun rencana-rencan baru yg akan memungkinkan hidup kita terus berjalan.
Berduka itu bermanfaat; depresi yg berkelanjutan adalah sia-sia.

“DEEPENING ANGER”

Anger is not able unrestrained by reason, would easily erupt into violence.
At this stage, people are not easily forgive and can not think clearly; they think only about revenge and retaliate action, oblivious to the consequences that may arise in the future.
Give rise to an illusion of power and immunity which might inspire and facilitate the occurrence of aggression “when the raging, loss of cognitive guidelines, and trapped in the most primitive responses. Encouragement limbic brain increases; lessons yet brutal teraarah of life became a reference action.

“BUDAK NAFSU”

Kau selalu….
Yang dipermainkan sang nasib
Yang menerima bencana dan anugerah
dengan penuh syukur…. tunjukan padaku
Lelaki yang bukan budak nafsu, dan ‘kan kusematkan dia
ditali kalbuku, ya, dalam hati sanubariku
Seperti aku padamu….
Kehidupan tanpa nafsu bagaikan padang pasir netralitas yang datar dan membosankan, terputus dan terkucil dari kekayaan hidup itu sendiri.

“Alkisah dasar perdamaian”

perdamaian dunia bisa didasari pada kedamaian hati kita sendiri. Jika kita bertanya apa yang menghancurkan kedamaian Hati kita, sehingga sulitnya tercipta perdamaian! saya rasa itu bukan senjata dan ancaman yg berasal dari eksternal, tetapi kelemahan batin kita sendirilah yg menumbuhkannya, seperti kemarahan. dan salah satu alasan mengapa cinta dan kasih sayang sangat penting, karena memang kedua indikator tersebutlah rantai terkuat yg dapat mengikat perdamaian antara kita yg berbeda-beda ini.

Nardysitumeang.Wordpress.com